Sebelum aku melakukannya, izinkan aku menyampaikan sepatah dua kata atau bahkan mungkin lebih. Mungkin ini sudah saatnya, sudah saatnya kembali ketitik nol. Dimana aku memulai hal yang baru di waktu yg sedikit berbeda di tahun yg baru pada detik yg menanti dengan lembaran baru. Bulan september bagiku adalah hari sejarah, Allah menakdirkan aku untuk bertemu denganmu di bulan itu. Dimana Allah telah mengijinkan aku untuk merasakan kasih sayang, cinta yang tulus tanpa ada perihal maupun lampiran yang harus aku ajukan kepada Tuhan untuk meminta surat lamaran cinta yang ku tulis bahkan sering kali ku mengangkat kedua tanganku ketika hatiku sedang berharap lebih. Mungkin Allah sudah terlalu bosan mendengarkan namamu dalam setiap doaku.
Untukmu sang langit merah di ufuk timur dalam lamunan subuh, aku katakan sekali lagi " Aku sangat mencintaimu, tanpa dusta" Terima kasih engkau masih tersenyum padaku meski yang ku rasakan adalah senyuman pahit yang harus ku simpan dalam hati. Tak secuilpun aku membencimu, meski ku tahu perjuanganku sedikit tak dihargai. Aku mengerti kamu mencoba tuk setia dengan pasanganmu meski engkau telah sedikit berbohong padaku, aku menerimanya dan mencoba untuk mengikhlaskan dirimu.
Melihat, memikirkan dan mendoakanmu dari kejauhan itu yang membuatku bahagia. Dari kejauhan aku berusaha memperbaiki diriku, memperdalam keahlianku dan sedikit menampakkan kelebihanku demi menarik perhatianmu atau mungkin setidaknya suatu saat nanti ketika Allah mengijinkan kita untuk menjadikanmu imam yg akan menjadi sahabat dunia akhiratku, aku bisa mewariskan semua kemampuanku kepada anak-anak kita kelak. Aku mulai dari belajar dari yang kecil hingga belajar mengurus segala macam urusan rumah tangga bahkan sudah kusiapkan nama untuk anak-anak kita.
Tak tega jika aku merebutmu dari cintanya, karena aku adalah seorang wanita yang juga pasti merasakan bagaimana sakit dan kecewa ketika pria yang dicintainya mencintai wanita lain. Aku yakin ia adalah wanita yang baik, tolong jaga hatinya.
Kepada sang fajar tetaplah menjadi pribadi dewasa yang hangat dan menyenangkan. Mungkin ini saatnya aku melepaskan perjuangan hatiku, setidaknya bibirku ini masih bisa tersenyum ketika kelak engkau di wisuda dan aku tidak bisa melihatmu lagi seseorang yang membuatku bersemangat walau ia tak memberikan apa-apa untukku karena bagiku melihatmu saja hatiku sudah merasa tenang.
Aku tak lelah maupun menyerah tapi sampai kapan hatiku akan terkoyak lebih dalam lagi, rasanya sulit sekali menahan air mataku. Ya Allah, mengapa aku air mata ini tak kunjung mengering yang selalu membasahi kedua pipiku dan kelopak mataku yang selalu sembab setiap malamnya
Jika aku bukan jalanmu, ku berhenti mengharapkanmu, jika aku memang tercipta untukmu ku kan memilikimu, Jodoh pasti bertemu. Jika memang kau terlahir hanya untukku kau akan kembali pada tubuh ini, kunikmati rindu yang datang membunuhku, untukmu seluruh nafas ini.
Untukmu: langit merah di ufuk timur dalam lamunan subuh
Dari: mawar merah yg menunggu sinar fajar dan hidup abadi menua bersamanya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar